Satu Bulan Magang di Dicoding

Sudah satu bulan lewat beberapa hari ini saya magang di Dicoding yang berkantor di Bandung. Bagi yang belum pernah mendengar namanya, Dicoding adalah salah satu penyedia kursus online di Indonesia yang telah bekerja sama dengan beberapa perusahaan multinasional, seperti Google, Microsoft, IBM, dan Samsung.

Throwback Feburari lalu, saya masih galau untuk melanjutkan kuliah di semester ini atau akan mengambil cuti dulu. Di tengah waktu yang semakin mendekati batas registrasi ulang, tidak disangka menemukan pengumuman bahwa Dicoding membuka kesempatan magang. Langsung saja saya apply tanpa berpikir dua kali, haha.

Sekitar satu minggu kemudian masih belum ada pemberitahuan lebih lanjut. Akhirnya saya kontak langsung, karena berkaitan dengan keputusan bayar kuliah atau cuti. Dan alhamdulillah lolos tahap administrasi dan bisa lanjut ke tahap wawancara. Hari itu kebetulan juga saya lagi dalam perjalanan ke Bandung untuk final Telkom Hackathon 2018. Sorenya saya janjian dengan CTO Dicoding untuk wawancara via WhatsApp. Menurut saya sih pertanyaannya sederhana dan mudah, tapi butuh niat dan kejujuran untuk menjawabnya. 🙂

Dan sepulang dari Bandung, saya mendapat email yang mensyiratkan “Saya akan ke Bandung (lagi)”, excplicitly saya diterima magang. Alhamdulillah, akhirnya cuti! Wkwk

Hari pertama ke kantor, saya sudah pede dengan mengenakan kaos, entah kenapa feeling saya mengatakan kaos is fine. Benar saja! Jadi, selamat tinggal kemeja dan dasi untuk sementara waktu, haha.

Hari sebelumnya saya muter-muter daerah kantor untuk mencari kos. Sebelumnya sudah survei dan kontak-kontakan dengan beberapa pemilik kos petensial. Yang sialnya adalah data yang saya peroleh dari salah satu marketplace kos tidak seperti keadaan yang sebenarnya. Akhirnya saya menggunakan ilmu lama untuk mencari kos: cari masjid dulu, cari kos di dekatnya. Terima kasih untuk Google Maps yang telah membantu saya menemukan kos idaman dengan harga yang menenangkan. Minggu depannya, squad magangers sudah lengkap 4 orang.

Growth #1: Product Management

Saya masuk di tim development dengan Pak CTO langsung yang menjadi manajer/mentor saya. Dengan dengan sabar menjelaskan bagaimana timnya bekerja, tools apa saja yang digunakan, dan beberapa hal lainnya. Salah satu hal yang membuat saya merasa nyaman di kantor ini adalah saya bisa menentukan sendiri growth dan detail jobdesc yang akan saya kerjakan. Awalnya saya masih sempat bingung dengan apa yang akan saya capai di sini, karena tugas awal yang diberikan berkaitan dengan WordPress.

Lalu beliau menganjurkan product management sebagai growth pertama. Pikir saya, benar juga! Selama ini saya lebih sering mengerjakan freelance project sendirian, dengan manajemen proyek yang … seadanya. Jadi, frustasi ketika mengerjakan proyek di tengah jalan karena banyak revisi adalah hal yang biasa selama ini.

Tugas saya adalah mencoba mengimplementasikan manajemen ini untuk task WordPress, yaitu memperbaiki blog Dicoding. Dimulai dengan mencari masalah apa saja yang ada di blog saat ini, baik dari sisi penulis ataupun pembaca. Saya mulai mewawancara singkat beberapa orang yang menjadi penulis di blog untuk menggali informasi. Dari hasil wawancara, saya mendapatkan beberapa masalah yang memang harus diselesaikan. Setelah itu saya membuat prioritas masalah apa yang akan saya kerjakan terlebih dulu. Setelah masalah dan prioritas tersusun, barulah saya mulai mengerjakan task tersebut.

Ada 3 hal yang Pak CTO tekankan ketika menganalisis sebuah masalah:

  1. Mengapa ini sebuah masalah
  2. Mengapa masalah ini penting untuk diselesaikan
  3. Bagaimana solusi untuk masalah ini

Dari sini saya belajar bahwa BAB I yang selama ini belum saya sentuh ternyata sangat penting sebelum memberikan solusi untuk sebuah masalah. Karena ketika kita hanya fokus pada konteks “bagaimana”, kita akan berimajinasi dan berasumsi macam-macam tanpa tahu apa sebenarnya yang kita butuhkan. Bisa jadi sebenarnya yang ingin kita pecahkan bukanlah sebuah masalah. Atau mungkin masalahnya ada tapi tidak menuntut untuk segera diselesaikan.

CLBK Sama WordPress

Satu bulan ini, saya juga dituntut untuk membuka kenangan lama dengan WordPress. Sebenarnya saya tidak benar-benar melupakan WordPress, hanya karena memang tuntutan yang harus lebih banyak bekerja dengan framework lain.

Tapi saya merasa beruntung karena task pertama berhubungan dengan WordPress. Saya jadi berkesempatan untuk mencoba Vagrant dan WP-CLI; yang sebenarnya sudah lama ada tapi tidak pernah ada waktu untuk mencobanya. Mungkin karena waktu itu merasa belum perlu, ya.

Vagrant digunakan untuk menyamakan lingkungan development agar sama dengan lingkungan server di mana WordPress akan di-deploy. Hal ini untuk mengurangi kemungkinan error karena perbedaan stack antara lokal dan server. Dan WP-CLI digunakan untuk melakukan setup WordPress dan kebutuhannya tanpa harus melalui tahapan visual seperti saat melakukannya melalui browser.


Semoga bermanfaat dan tunggu lanjutan tulisan untuk bulan depan. Salam dari Bandung. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *